JAKARTA | NUSANTARA NEWS CHANNEL — Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Anas Urbaningrum, menyampaikan pesan terbuka kepada Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.
Pesan tersebut menyoroti pentingnya menjaga persaudaraan antara kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di tengah dinamika organisasi, sosial, dan politik nasional.
Anas menegaskan, perbedaan latar belakang organisasi maupun kompetisi antarkelompok merupakan sesuatu yang wajar. Namun, kompetisi tersebut semestinya tidak berubah menjadi permusuhan.
HMI dan PMII Tak Perlu Bermusuhan
Menurut Anas, tidak ada alasan mendasar bagi HMI dan PMII untuk saling bermusuhan.
Perbedaan pandangan dan kompetisi justru dapat menjadi proses pendewasaan organisasi apabila tetap dibangun dengan semangat persaudaraan dan kepentingan bersama.
Ia menilai prinsip tersebut sejalan dengan teori sosial, demokrasi, masyarakat sipil, maupun nilai ukhuwah.
“Kompetisi seharusnya diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan bersama, bukan menjadi sumber permusuhan,” pesan Anas.
Siapa Pun Pemimpin NU, Persaudaraan Harus Dijaga
Anas juga mengaitkan pesan tersebut dengan dinamika kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).
Menurutnya, siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin PBNU tidak seharusnya menjadi alasan bagi kelompok tertentu untuk memperlebar jarak persaudaraan.
Latar belakang organisasi seseorang—baik PMII, HMI, GMNI, IPNU, Ansor, maupun Fatayat—semestinya tidak menjadi sekat dalam membangun kebersamaan.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah dinamika Muktamar NU yang melahirkan kepemimpinan baru untuk periode 2026–2031.
Mengenang Pesan Kiai Abdul Jalil Mustaqim
Dalam pesannya kepada Cak Imin, Anas juga mengenang hubungan persaudaraan yang pernah terjalin melalui almarhum Kiai Abdul Jalil Mustaqim dari Pondok Pesantren PETA, Tulungagung.
Kenangan tersebut terjadi ketika Cak Imin dan Anas sama-sama dipercaya memimpin organisasi mahasiswa masing-masing.
Saat itu, Cak Imin berada di penghujung masa kepemimpinannya sebagai Ketua Umum PMII, sementara Anas baru memulai masa kepemimpinannya sebagai Ketua Umum HMI.
Anas masih mengingat nasihat singkat Kiai Jalil kepada keduanya.
“PMII dan HMI yang rukun ya.”
Bagi Anas, pesan sederhana tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar: perbedaan organisasi tidak boleh menghilangkan persaudaraan.
Politik Boleh Berbeda, Persaudaraan Jangan Hilang
Pesan Anas juga menjadi pengingat bahwa dinamika politik dan organisasi seharusnya tidak menghapus hubungan sosial yang telah dibangun sejak lama.
Perbedaan pilihan politik maupun latar belakang organisasi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, perbedaan tersebut harus tetap berada dalam koridor saling menghormati.
Anas kemudian menutup pesannya dengan salam paseduluran, atau persaudaraan, sebagai penegasan bahwa hubungan antarkader organisasi harus tetap dijaga.
Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar HMI, PMII, dan berbagai organisasi kemahasiswaan lainnya mampu menempatkan persaudaraan sebagai kekuatan dalam menghadapi dinamika bangsa.
NUSANTARA NEWS CHANNEL
Aktual dan Terpercaya





