JAKARTA – NUSANTARA NEWS CHANNEL — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat ekosistem sastra nasional melalui peringatan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2026. Momentum tersebut diharapkan menjadi ruang lahirnya generasi baru penyair Indonesia yang mampu meneruskan jejak para maestro sastra nasional sekaligus membawa karya-karya Indonesia ke panggung dunia.
Pernyataan itu disampaikan Fadli Zon saat menghadiri Perayaan Hari Puisi Indonesia ke-14 yang berlangsung di Graha Utama, Gedung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, Minggu (26/7/2026).
Menurut Fadli Zon, pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap Hari Puisi Indonesia yang sejak 26 Juli 2025 telah ditetapkan sebagai momentum penting dalam memperkuat perkembangan sastra dan kebudayaan nasional.
“Peringatan Hari Puisi Indonesia yang jatuh pada 26 Juli ini tentu kami sangat dukung. Tahun lalu pun saya hadir saat penetapannya. Ini merupakan penghormatan kepada para penyair dan karya-karya sastra Indonesia, sekaligus mengenang sosok Chairil Anwar yang menjadi tonggak penting dalam perkembangan puisi modern Indonesia,” ujar Fadli Zon.
Ia menuturkan, apabila masih hidup, Chairil Anwar tahun ini telah berusia 104 tahun. Sosok penyair Angkatan ’45 itu dinilai tetap menjadi inspirasi bagi perkembangan sastra Indonesia hingga sekarang.
Fadli Zon juga berharap puisi semakin diminati kalangan muda, khususnya Generasi Z, sehingga Indonesia tidak hanya memiliki penyair besar masa lalu, tetapi juga mampu melahirkan tokoh-tokoh sastra baru yang berkiprah di tingkat internasional.
“Kita berharap ke depan tidak hanya nama-nama yang itu-itu saja. Harus lahir LK Ara baru, Sutardji Calzoum Bachri baru, Taufik Ismail baru, dan tentu Chairil Anwar baru,” katanya.
Menurutnya, kekayaan budaya, bahasa, dan tradisi yang dimiliki Indonesia merupakan modal besar untuk melahirkan sastrawan berkelas dunia.
LK Ara Raih Anugerah Penyair Adiluhung 2026
Pada kesempatan tersebut, Yayasan Hari Puisi (YHP) menganugerahkan penghargaan Penyair Adiluhung 2026 kepada penyair senior asal Aceh, Lesik Keti Ara (LK Ara).
Penghargaan yang diberikan sejak 2020 itu sebelumnya telah diterima sejumlah tokoh sastra Indonesia, di antaranya Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, dan D. Zawawi Imron.
Fadli Zon secara langsung menyerahkan trofi, piagam penghargaan, serta hadiah sebesar Rp40 juta kepada LK Ara.
Meski tiba sekitar dua jam lebih lambat dari jadwal karena menghadiri agenda kebudayaan di Tasikmalaya, Jawa Barat, kehadiran Menteri Kebudayaan disambut hangat oleh panitia, tamu undangan, Duta Baca Pelajar, serta penampilan tari penyambutan yang dibawakan dua penari cilik asal Bogor, Shakira dan Shaveera.
Sebelum memasuki ruang acara, Fadli Zon juga menyempatkan diri menyapa sejumlah tokoh sastra nasional, di antaranya Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin, Prof. Dr. Soenarjati Djajanegara, Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Danny Susanto, Neno Warisman, Linda Jalil, Nissa Rengganis, hingga Rohani Vanath.
Berdasarkan keputusan dewan juri yang terdiri atas Rida K. Liamsi dan Sutardji Calzoum Bachri, serta dibacakan Ahmadun Yosi Herfanda, LK Ara dinilai sebagai penyair yang konsisten mengabdikan hidupnya bagi perkembangan puisi Indonesia.
“LK Ara dipilih karena kesetiaan dan dedikasinya yang luar biasa bagi dunia perpuisian Indonesia,” ujar Ahmadun.
Lahir di Takengon, Aceh Tengah, pada 12 November 1937, LK Ara telah menghasilkan lebih dari 40 buku, sebagian besar berupa kumpulan puisi. Ia juga dikenal memiliki gaya khas dalam membacakan puisi dengan memadukannya bersama musik tradisional Gayo.
Dalam sambutannya, LK Ara mempersembahkan penghargaan tersebut kepada keluarga, para guru, sahabat sastra, masyarakat Gayo dan Aceh, serta seluruh pembaca yang selama ini mendukung perjalanan kepenyairannya.
“Saya percaya penghargaan hanya singgah pada seorang penyair, tetapi sastra harus tetap tinggal di tengah masyarakat sebagai cahaya yang menjaga martabat manusia,” ungkapnya.
Yayasan Hari Puisi Perluas Jejaring Sastra Internasional
Sementara itu, Koordinator Relasi Penyair Indonesia–Mancanegara Yayasan Hari Puisi, Ewith Bahar, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menyiapkan penguatan kerja sama internasional melalui program penerjemahan karya sastra serta residensi penyair di berbagai negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika.
Menurutnya, penyelenggaraan Hari Puisi Indonesia ke-14 mendapat perhatian luas dari komunitas sastra dunia. Sejumlah penyair mancanegara bahkan menyampaikan ucapan selamat melalui tayangan video yang diputar selama acara berlangsung.
“Kami ingin Hari Puisi Indonesia menjadi jembatan budaya antarbangsa. Ke depan akan dibuka peluang kerja sama penerjemahan puisi, program residensi, hingga pertukaran penyair agar karya-karya sastra Indonesia semakin dikenal di dunia,” kata Ewith.
Ia menambahkan, Hari Puisi Indonesia menjadi simbol penting bagi kemajuan peradaban bangsa karena mencerminkan komitmen dalam merawat bahasa, sastra, serta identitas budaya nasional.
Melalui kolaborasi internasional tersebut, Yayasan Hari Puisi berharap puisi dapat terus menjadi media yang memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, perdamaian, kesetaraan, dan persahabatan lintas negara.
(Herman Syahara)
Reporter: Admin





